Layanan Cetak Buku Yasin Murah, Cepat, Berkualitas

Mengapa bacaannya عليهُ Bukan عَلَيْهِ

Pada dasarnya, dalam kaidah bahasa Arab yang baku, ha’ dhamir mudzakkar (kata ganti tunggal yang maskulin) apabila didahului oleh kasrah atau ya’ sukun, maka harus dibaca kasrah, karena untuk menyesuaikan harakat sebelumnya, seperti lafadz (بِهِ) atau (عَلَيْهِ). Namun dalam riwayat Imam Hafs, kaidah ini tidak berlaku, yakni pada Surat al-Fath ayat 10 (عليهُ الله) dan Surat al-Kahfi ayat 63 (وما أنسابيهُ). Pada kedua lafadz di atas, ha’ dhamirnya dibaca dhammah, padahal menurut kaidah bahasa seharusnya dibaca kasrah. Dua ayat yang dimaksud adalah sebagai berikut:

 إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ ۚ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَىٰ نَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Artinya: “Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.” (QS al-Fath: 10)

قَالَ أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَا أَنْسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ ۚ وَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ عَجَبًا

Artinya: “Muridnya menjawab: ‘Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali’.” (QS al-Kahfi:63)

Mengapa demikian? Padahal, untuk mengidentifikasi keotentikan sebuah qira’at Al-Qur’an harus memenuhi tiga syarat, yaitu (1) tersambungnya sanad secara mutawatir, (2) sesuai dengan rasm utsmaniy, dan (3) sesuai dengan kaidah bahasa Arab. Apabila syarat di atas tidak terpenuhi, maka bacaan tersebut dihukumi syadz (nyeleneh) dan tidak shahih, walaupun bacaan itu bagian dari Qira’at Sab’ah. Dalam hal ini Imam Al-Jazariy bersenandung lewat bait syairnya, yaitu:

 فكل ما وافق وجه النحو *** وكان للرسم احتمالا يحوي

وصح إسنادا هو القرأن *** فهذه الثلاثة الأركان

وحيثما يختل ركن أثبت *** شذوذه لو أنه في السبعة

Dalam bahasa Arab, asal mula ha’ dhamir mudzakkar (kata ganti tunggal yang maskulin) adalah “هو” (huwa; dhammah ha’-nya). Dalam dunia pesantren, lafadz ini kenal dengan sebutan “dhamir munfashil” (kata ganti tunggal maskulin yang terpisah dari lafadz lain). Apabila dhamir ini disambung dengan lafadz lain, maka dhamir itu dikenal dengan sebutan “dhamir muttashil”.

Dalam bacaan riwayat Imam Hafs, pada kedua lafadz di atas (عليهُ الله) (وما أنسابيهُ) dibaca dhammah, apabila ditinjau dari sisi kaidah bahasa Arab, sebenarnya tidak keluar dari pakem bahasa Arab, sebab asal mula harakat ha’ dhamir itu sendiri adalah dhammah. Artinya, dalam hal ini ha’ dhamir dibaca dhammah karena mengukuti sesuai asalnya, yaitu dhammah. Demikian ini merupakan dialek (lahjah) Qurasy.

Sementara itu, apabila dipandang dari sisi pemaknaan, pada kasus Surat al-Fath ayat 10 (عليهُ الله) ha’ dhamir yang bersambung dengan lafadz Allah, menurut Syekh Al-Sayyid Al-Tanthawiy dalam tafsirnya Al-Wasith menguraikan bahwa alasan dibaca dhammah ha’ dhamir pada lafadz itu karena bersambung dengan lafadz Allah. Untuk mengagungkan lafadz, seyogianya dibaca tebal (tafkhim). Selain itu, dalam ayat tersebut menceritakan tentang “Sulh Al-Hudaibiyah” di mana antara Nabi dan umat Islam melakukan perjanjian dengan kaum musyrik yang harus ditepati oleh kedua belah pihak. Karena dalam perjanjian ini adalah perjanjian yang sangat berat, maka sewajarnya ditekankan suara dengan membaca dhammah ha’ dhamir dengan menebalkan lafadz Allah agar sesuai dengan besarnya tanggung jawab perjanjian dan juga dalam rangka menyesuaikan antara lafadz dan makna yang terkandung di dalamnya.

Meskipun demikian, apabila dipandang dari sisi ilmu qira’at, bacaan ini (dhammah ha’ dhamir) merupakan bacaan yang sahih dan mutawatir, yang dihasilkan dari transmisi yang jelas dan penukilan yang sahih dari Nabi ﷺ., kepada para sahabat, dan dilanjutkan oleh para tabi’in hingga sampai kepada kita.

Secara silsilah sanad, bacaan ini diriwayatkan oleh Sayyidina Ali karramallâhu wajhah kepada muridnya, Abu Abdurrahman Al-Sullamiy, kemudian diriwayatkan oleh muridnya Imam Ashim, dan dilanjutkan oleh muridnya Imam Hafs, hingga sampai kepada kita secara mutawatir.

Perlu diketahui bahwa dalam periwayatan qira’at Al-Qur’an tidak ada istilah ijtihad bacaan atau mengekor pada kaidah bahasa Arab, justru sebaliknya bahasa Arab harus mengikuti periwayatan qira’at Al-Qur’an. Sementara penggalian pada sisi pemaknaan, bahasa dan lainnya sebagai bukti kebeneran dan otentifikasi qira’at Al-Qur’an. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh: Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo.

Sumber: www.islam.nu.or.id

Berbohong Itu Dosa


Mari menanamkan nilai kebaikan kepada putra-putri kita dengan bernyanyi dengan mereka. Karena dengan hal yang menyenangkan diantaranya dengan bernyanyi secara tanpa sadar akan merasuk nilai-nilai positif dari bait-bait lagu tersebut di otak bawah sadar putra-putri kita.

Sehingga mereka ke depan mudah-mudahan tidak menjadi generasi “Sobat Ambyar”, generasi “Cengeng”, generasi “Micin”, bahkan generasi “Frustasi”.

Na’udzubillahi min dalik.

Siapa suka berbohong

Siapa sering bohong

Berbohong itu dosa

Perbuatan tercela

Dilarang agama Islam

Reff:

Janganlah sekali-kali berbohong

Sekali bohong tiada dipercaya

Janganlah sekali-kali berbohong

Berbohong dilarang agama Islam

Mahfudzot:

أَكْثَرُ خَطَايَا ابْنِ اَدَمَ مِنْ لِسَانِهِ

Kesalahan manusia yang paling banyak, adalah karena lisannya.

سَلاَمَةُ الْأِنْسَانِ فِي حِفْظِ اللِّسَان

Keselamatan manusia (tergantung) dalam menjaga lisannya.

DAWUH-DAWUH BAPAK KH. DACHLAN SALIM ZARKASYI

I.     NAWAITU DAN VISI MISI QIRAATI

  • Qiraati bukan hasil fikiran manusia, Qiraati bukan karangan saya, Qiraati adalah inayah dan hidayah MINALLAH.
    Saya duduk, saya kelihatan tulisan. Jadi kalau ditanya, “mengapa pelajaran ikhfa di jilid 4,  sedangkan idhar di jilid 6,?” jawabannya, “Tidak tahu, saya tidak ikut ngarang.”
  • Saya tidak jual buku, saya ingin anak-anak nanti ngajinya benar. Kalau saya jual buku, buat apa repot repot membentuk Kooordinator, titipkan saja ke toko-toko buku, selesai.
  • Saya tidak pingin yang pakai Qiraati banyak. Saya pingin anak yang ngaji pakai Qiraati, ngajinya benar.
  • Qiraati tidak disebar-sebarkan, saya tidak pernah menyebarkan Qiraati. Qiraati menyebar minallah.

II.  METODOLOGI

  • Kegagalan mengajar tempo dulu sebabnya ialah : Terlalu Toleransi pada anak-anak. Pelajaran belum bisa anaknya minta tambah, ditambah, satu halaman dua halaman belum masalah. Setelah halaman 15 pelajaran tidak bisa diteruskan dan disuruh kembali ke halaman pertama tidak mau. Akhirnya karena merasa tidak berhasil ngajinya pindah.
  • Insya Allah setelah TK Al-Qur’an berdiri. Dua tahun sudah khotaman, di sini (semarang) santri 90 setelah 2 tahun Khotam 20 santri (+ 20 %)
  • Tidak ada murid bodoh, kalau ada yang bodoh paling dalam 100 ada satu atau dua murid saja.  Kalau ada guru yang mengatakan “ Murid saya bodoh-bodoh” apa bukan guru”Gurunya?” Tanya beliau. Dan kalau ada anak yang bodoh seperti itu maka cara yang tepat ialah gurunya SOWAN ke rumah orang tuanya agar orang tuanya sabar.
  • Qiraati tidak kemana-mana tetapi ada di mana-mana. Siapa yang lulus tashih boleh mengajarkan Qiraati. (Yang belum lulus tashih walaupun teman atau saudara tidak boleh mengajar Qiraati)

III.  UJIAN SANTRI, KHATAMAN, DAN IMTIHAN

  • Khatam Qiraati jilid 6 adalah khatam Tingkat Persiapan, insya Allah sudah bisa baca Al Quran dengan tartil (belum khatam).
  • Kalau dulu santri ngaji sampai  با لناس  dikhatami, sekarang di TK Al Quran sampai dengan با لناس  baca Al Qurannya diulangi  الم lagi, belum dikhatami sampai gharib dan ilmu tajwid khatam.
  • Khatam TK Al Quran, khatam Al Qurannya bisa 2 kali, 3 kali, atau sampai 5 kali.
  • Khataman ini adalah khataman untuk pendidikan, dan ini lebih cocok (karena model tadarus ini lebih efektif dibandingkan dengan model tallqi).
  • Saya diundang khataman di Kudus, bacaan gharibnya bagus tapi baca al Qurannya tidak tartil.
  • Baca ان طهرا gharibnya benar, tapi an tha “salah” tidak dengung. Saya sampaikan kepada Kepala TK Al Qurannya bahwa, “anak-anak belum boleh dikhatami, masih jilid 3.”
  • Khataman jangan diganti dengan wisuda
  • Khataman tidak harus meriah (mewah), pernah di sini (Semarang), khataman cukup dengan mengeluarkan minuman teh dan kantong plastik, sedangkan isinya dari (sumbangan) wali murid.
  • Kalau akan mengadakan khataman, wali murid yang dikhtami diajak rapat, mau khataman di gedung atau di sini (TPQ), terserah wali murid.

IV. KRITIK DAN SARAN KH. DAHLAN SALIM ZARKASYI

  • Saya tidak pernah dengar guru Al Quran mengatakan, “al hamdulillah saya telah dijadikan Allah sebagai guru Al Quran, padahal,

خيركم من تعلم القرأن و علمه Berapa itu ? (nilai pahala) خيركم

  • Yang sering saya dengarkan guru mengeluhkan santrinya dan pengurusnya,  (orang bersyukur tidak suka mengeluh).
  • Guru Al Quran harus sering tadarus Al Qur’an.
  • Guru Al Quran harus ikhlas.
  • Saya kira tidak ada guru Al-Quran yang ingin cari sesuatu (nafkah dalam mengajar Al Quran).
  • Kalau ada orang memberi sesuatu pada kita, maka cepat-cepat doakan semoga rizkinya barokah.
  • Guru Al Quran supaya hati-hati dalam mengajarkan Al Quran.

disampaikan oleh : A. Alwafa Wajih

Tata Cara Sholat Istisqo’ (minta hujan) dan Bacaannya

sholat bermajaah di lapangan

Istisqa secara bahasa adalah meminta siraman berupa air minum, air hujan, air masak, dan lainnya. Sedangkan secara istilah syariat adalah permintaan hujan oleh seorang hamba kepada Allah subhanahu wata’ala saat membutuhkannya. Istisqa disyariatkan ketika putusnya air hujan atau minimnya sumber air, semisal karena kemarau panjang. 

Istisqa bisa dilakukan dengan tiga (3) cara. 

Pertama, dengan berdoa agar segera diberi hujan, baik sendirian maupun berjamaah. Istisqa jenis pertama ini tidak dibatasi oleh waktu dan tempat.

Kedua, berdoa meminta hujan setelah shalat, baik shalat sunnah maupun shalat fardhu, semisal setelah khutbah Jumat, khutbah shalat hari raya, dan sebagainya. Istisqa jenis kedua ini tidak berbeda dengan yang pertama, namun doa yang dipanjatkan lebih khusus dilakukan setelah shalat dengan segala jenisnya. 

Ketiga, dengan bertaubat, puasa dan shalat Istisqa. Cara yang ketiga ini adalah cara yang paling utama, karena telah diamalkan oleh Nabi, sahabat, Tabi’in dan generasi ulama setelahnya (Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi, Nihayah al-Zain [Surabaya: al-Haramain], hal. 111, dan Hasan bin Ahmad bin Muhammad bin Salim al-Kaf, al-Taqrirat al-Sadidah [Pasuruan: Dar al-‘Ulum al-Islamiyyah], hal. 350).

Adapun hukum shalat Istisqa adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan), baik bagi laki-laki maupun perempuan. Dan bisa berubah statusnya menjadi wajib bila diperintahkan oleh pemerintah.  Untuk menyelenggarakan shalat istisqa’ atau shalat untuk memohon hujan, perlu diketahui bahwa ada proses yang harus dilakukan sebelum shalat dan ada proses yang dilakukan di dalam shalat dan khutbah agar permohonan hujan lebih memungkinkan untuk dikabulkan Allah. Kedua proses tersebut sebagai berikut:

Proses Sebelum Shalat

  • Imam mengajak masyarakat untuk bertobat, memperbanyak istighfar, bersedekah, menghentikan maksiat dan kezaliman, serta berdamai dengan Muslim lain yang dimusuhi.
  • Dianjurkan juga agar imam beserta masyarakat berpuasa selama tiga hari sebelum melakukan shalat. 
  • Di hari keempat setelah berpuasa, imam beserta masyarakat bersama ke luar menuju lapangan untuk shalat dengan menggunakan pakaian reguler yang dipakai bekerja setiap harinya, bukan pakaian bagus.
  • Orang tua, anak kecil, serta orang-orang yang lemah secara fisik dibawa serta untuk ikut shalat.
  • Bagi yang mempunyai ternak, dianjurkan membawa serta ternaknya ke lokasi shalat dan ditempatkan di tempat yang sekiranya tidak mengganggu jamaah.

Proses Shalat dan Khutbah

  • Shalat dua rakaat dengan niat istisqa’. Lafal niatnya adalah:

أُصَلِّيْ سُنَّةَ الاِسْتِسْقَاءِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْمًا /إِمَامًا لِلهِ تَعَالَى

“Aku berniat shalat sunnah minta hujan dua rakaat sebagai makmum (atau imam), karena Allah SWT.”

  • Tata cara shalat istisqa’ mirip seperti shalat id. Pada rakaat pertama, takbir tujuh kali sebelum membaca surat al-Fatihah. Pada rakaat kedua, takbir lima kali sebelum membaca surat al-Fatihah.
  • Khutbah dua kali (tapi boleh juga sekali) setelah shalat. Khutbah ini boleh dilakukan sebelum shalat tetapi tidak utama, sebaiknya dilakukan setelah shalat seperti halnya shalat id. Rukun khutbah sama seperti rukun khutbah pada umumnya
  • Mengawali khutbah pertama, khatib membaca istighfar sembilan kali. Mengawali khutbah kedua, khatib membaca istighfar tujuh kali. Bacaan istighfarnya adalah:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ

  • Khatib memperbanyak bacaan doa dan istighfar dalam khutbah. Bacaan imbauan beristighfar yang sebaiknya diulang adalah:

اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا . يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا

  • Ketika khatib berdoa, makmum mengangkat tangan sambil mengucap amin.

Pada perkiraan dua pertiga khutbah kedua, khatib disunnahkan menghadap kiblat lalu membalik posisi selendang surbannya dari bahu kanan ke bahu kiri dengan posisi terbalik, bagian bawah diletakkan di atas dan bagian dalam diletakkan di luar. Setelah itu kembali meneruskan khutbah.

Diambil dari sumber: https://islam.nu.or.id

Alloh Tuhanku, Islam Agamaku

Lagu indah untuk anak muslim

Siapakah Tuhanmu?

Apa agamamu ?

Siapakah nabimu?

Apa kitabmu?

= = = =

Tuhanku adalah Allah

Agamaku Islam

Nabiku Nabi Muhammad

Kitabku Al Qur’an

= = = =

Ya ya ya ya

Allah Tuhanku

Ya ya ya ya

Muhammad nabiku

Ya ya ya ya

Islam agamaku

Ya ya ya ya

Al Qur’an kitabku

Share via