Category: Informasi

Hitungan Nishab Zakat Ternak

1. Nishab dan Ukuran Zakat Unta

No. Nishab Zakat Yang Wajib Dikeluarkan
1. 5 ekor 1 ekor kambing umur 2 tahun, atau 1 ekor domba umur 1 tahun
2. 10 ekor 2 ekor kambing umur 2 tahun, atau 2 ekor domba umur 1 tahun
3. 15 ekor 3 ekor kambing umur 2 tahun, atau 3 ekor domba umur 1 tahun
4. 20 ekor 4 ekor kambing umur 2 tahun, atau 4 ekor domba umur 1 tahun
5. 25 ekor 1 ekor onta betina umur 1 tahun
6. 36 ekor 1 ekor onta betina umur 2 tahun
7. 46 ekor 1 ekor onta betina umur 3 tahun
8. 61 ekor 1 ekor onta betina umur 4 tahun
9. 76 ekor 2 ekor onta betina umur 2 tahun
10. 91 ekor 2 ekor onta betina umur 3 tahun
11. 121 ekor 3 ekor onta betina umur 2 tahun

Jika aset mencapai 140 ekor unta, maka cara menghitung ukuran zakatnya adalah, setiap kelipatan 40 ekor, zakatnya 1 ekor unta betina umur 2 tahun, dan setiap kelipatan 50 ekor, zakatnya 1 ekor unta betina umur 3 tahun.

Contoh:

a. Aset 140 ekor, zakatnya adalah 2 ekor unta betina umur 3 tahun dan 1 ekor unta betina umur 2 tahun. Sebab, 140 ekor terdiri dari 50 ekor x 2, dan 40 ekor x 1.

b. Aset 150 ekor, zakatnya adalah 3 unta betina umur 3 tahun. Sebab, 150 ekor terdiri dari 50 ekor x 3.

c. Aset 160 ekor, zakatnya adalah 4 ekor unta betina umur 2 tahun. Sebab, 160 ekor unta terdiri dari 40 ekor x 3.(Lihat Muhammad Nawawi ibn Umar, Qut al-Habib al-Gharib, Surabaya, al-Hidayah, halaman 102-103)

2. Nishab dan Ukuran Zakat Sapi

No. Nishab Zakat Yang Wajib Dikeluarkan
1. 30 ekor 1 ekor sapi umur 1 tahun
2. 40 ekor 1 ekor sapi umur 2 tahun

 Setelah aset mencapai 60 ekor, maka setiap kelipatan 30, zakatnya 1 ekor sapi umur 1 tahun, dan setiap kelipatan 40, zakatnya 1 ekor sapi umur 2 tahun.

Contoh:

a. Aset 60 ekor sapi, zakatnya adalah 2 ekor sapi umur 1 tahun, sebab, 60 ekor terdiri dari 30 ekor x 2.

b. Aset 70 ekor sapi, zakatnya adalah 1 ekor sapi umur 1 tahun dan 1 ekor sapi umur 2 tahun. Sebab, 70 ekor sapri terdiri dari 30 ekor dan 40 ekor sapi.

c. Aset 120 ekor sapi, zakatnya adalah 4 ekor sapi umur 1 tahun atau 3 ekor sapi umur 2 tahun. Sebab, 120 ekor terdiri dari 30 ekor x 4 atau 40 ekor x 3. (Lihat Muhammad Nawawi ibn Umar, Qut al-Habib al-Gharib, Surabaya, al-Hidayah, halaman 103-104)

3. Nishab dan Ukuran Zakat Kambing

No. Nishab Zakat Yang Wajib Dikeluarkan
1. 40 ekor 1 ekor kambing umur 2 tahun, atau 1 ekor domba umur 1 tahun
2. 121 ekor 2 ekor kambing umur 2 tahun, atau 2 ekor domba umur 1 tahun
3. 201 ekor 3 ekor kambing umur 2 tahun, atau 3 ekor domba umur 1 tahun
4. 400 ekor 4 ekor kambing umur 2 tahun, atau 4 ekor domba umur 1 tahun.

Setelah aset kambing mencapai 500 ekor, maka perhitungan zakatnya berubah, yaitu setiap kelipatan 100 zakatnya 1 ekor kambing umur 2 tahun atau 1 ekor domba umur 1 tahun.

Contoh:

a. Aset 500 ekor, zakatnya adalah 5 ekor kambing umur 2 tahun atau 5 ekor domba umur 1 tahun.

b. Aset 600 ekor, zakatnya adalah 6 ekor kambing umur 2 tahun atau 6 ekor domba umur 1 tahun.

Khusus di dalam zakat binatang ternak dikenal istilah waqs, yaitu jumlah binatang yang berada di antara nishab dengan nishab di atasnya, semisal 130 ekor kambing yang berada di antara 121 ekor dengan 201 ekor. Pertambahan waqs ini tidak merubah ukuran zakat yang wajib dibayarkan kecuali telah mencapai nishab yang telah ditentukan. Contohnya, jumlah aset 130 ekor kambing, zakatnya sama dengan aset 121 ekor kambing, yaitu 2 ekor kambing umur 2 tahun atau 2 ekor domba umur 1 tahun. Hal ini berbeda dengan zakat selain binatang ternak. Setiap tambahan aset bisa menambah ukuran zakat yang wajib dibayarkan.(Lihat Muhammad Nawawi ibn Umar, Qut al-Habib al-Gharib, Surabaya, al-Hidayah, halaman 104)

Menurut mazhab Syafi’i, zakat binatang ternak tidak boleh dibayarkan dalam bentuk uang. Namun menurut pendapat mazhab Hanafi, satu pendapat dalam mazhab Maliki dan satu riwayat dalam mazhab Hanbali, zakat ternak boleh dibayarkan dalam bentuk nominal uang sesuai dengan standar harga ukuran zakatnya. (Lihat Wuzarrah al-Auqaf wa as-Syu’un al-Islamiyah bi al-Kuwait, al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, Kuwait, Wuzarrah al-Auqaf al-Kuwaitiyah, jilid: XXIII, halaman: 298-299).

Begitulah perhitungan zakat binatang ternak yang disampaikan oleh para ulama’. Semoga bermanfaat, amin.

dikutip dari lama NUonlie.or.id.

KETENTUAN ZAKAT TERNAK

Binatang yang wajib dizakati hanyalah onta, sapi, dan kambing. Hikmah di baliknya antara lain karena banyaknya manfaat binatang-binatang tersebut bagi manusia; air susunya baik untuk kesehatan, mudah dikembang biakkan, dan lain sebagainya (Lihat An-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Mesir, al-Muniriyah, jilid V, halaman: 321).

Adapun syarat-syaratnya adalah:

  1. Pemiliknya muslim

Syarat zakat adalah pemiliknya muslim, sehingga non muslim meskipun mempunyai binatang sesuai kriteria tidak wajib zakat.

Abu Bakar Ash Shidiq berkata, “inilah sedekah yang diwajibkan rosululloh saw atas orang-orang muslim” Riwayat Bukhori dan Anas.

  • Pemiliknya orang merdeka
  • Milik yang sempurna. Sesuatu yang belum sempurna dimiliki tidak wajib dikeluarkan zakat.
  • Mencapai nishab (batas minimal)

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ بَعَثَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْيَمَنِ فَأَمَرَنِي أَنْ آخُذَ مِنْ كُلِّ ثَلَاثِينَ بَقَرَةً تَبِيعًا أَوْ تَبِيعَةً وَمِنْ كُلِّ أَرْبَعِينَ مُسِنَّةً

“Dari Mu’adz ibn Jabal, ia berkata, ‘Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam mengutusku ke Yaman, kemudian beliau memerintahku untuk mengambil zakat dari setiap tiga puluh ekor unta, seekor unta berusia setahun, menginjak usia tahun keduanya, jantan atau betina, dan dari setiap empat puluh ekor unta, seekor unta berusia dua tahun,menginjak usia ketiga’.” (HR. At-Tirmidzi)

  • Kepemilikan sampai 1 tahun

وَلَيْسَ فِي مَالٍ زَكَاةٌ حَتَّى يَحُولَ عَلَيْهِ الْحَوْلُ

“Suatu harta tidak wajib dizakati kecuali telah melewati masa setahun.” (HR. Abu Dawud)

  • Digembalakan di tanah umum dan makannya tidak menggunakan biaya

Hewan ternak yang diambil susu dan digembalakan di padang rumput disebut sa-imah. Hewan seperti ini dikenai zakat jika telah mencapai nishob dan telah memenuhi syarat lainnya.

Hewan ternak yang diniatkan untuk diperdagangkan. Hewan seperti ini dikenai zakat barang dagangan walau yang diperdagangkan cuma satu ekor kambing, satu ekor sapi atau satu ekor unta.

  • Tidak dipekerjakan

Hewan ternak yang dipekerjakan seperti untuk memikul barang dan menggarap sawah. Zakat untuk hewan ini adalah hasil upah dari jerih payah hewan tersebut jika telah mencapai haul dan nishob.

Jika seseorang memiliki unta, sapi atau kambing yang telah memenuhi keempat syarat di atas, maka wajib dizakati. Semua ini menurut pendapat mazhab Syafi’i. Sedangkan menurut pendapat mazhab Malikiyah, syarat ketiga (digembalakan) dan syarat keempat (tidak dipekerjakan) tidak menjadi pertimbangan. Sehingga, apabila ketiga binatang ternak tersebut telah mencapai nishab dan melewati masa setahun (haul), maka wajib dikeluarkan zakatnya. (Lihat Muhammad ibn Abdullah al-Kharasyi, Syarh Mukhtashar Khalil). Wallahu a’lam

Cetak Buku Yasin-Tahlil dan Majmu’ Syarif Murah Berkualitas di Jogja

Buku Yasin-Tahlil dan Majmu’ Syarif, menjadi sarana atau wasilah mendo’akan Al Marhum / Al Marhumah keluarga tercinta baik dalam peringatan dan do’a bersama pada 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1 tahun, dan 1000 hari wafatnya. Mencetak buku Yasin dan Tahlil ataupun Majmu’ Syarif yang berkualitas, murah dan terjangkau sesuai anggaran Anda tentu saja sangat bisa diamanahkan kepada kami di bukudoa-Lithograph.

Apabila sudah punya desain, kami siap membantu mewujudkan desain Anda. Jika belum punya desainnya, maka dengan senang hati kami menawarkan galeri desain kami untuk Buku Yasin-Tahlil, ataupun Majmu’ Syarif secara eksklusif kepada Anda. Berbagai pilihan desain yang menarik, elegan bahkan bisa custome sesuai dengan selera Anda.

Agar proses cetak buku Yasin-Tahlil dan Majmu’ Syarif berjalan cepat, kami sarankan Anda untuk berkonsultasi terlebih dahulu mengenai :

  1. Desain cover
  2. Bahan cover
  3. Bahan isi buku (bisa lihat di daftar harga)
  4. Jumlah halaman buku yang dikehendaki (bisa lihat di daftar harga)
  5. Jumlah pesanan
  6. Daftar harga

Kami siap melayani pemesanan baik online maupun offline, dalam kota maupun luar kota. Untuk pengiriman yang berdomisili di kota Yogyakarta dengan senang hati kami antarkan langsung ke rumah Anda, untuk yang diluar kota jangan khawatir kami bantu proses pengiriman melalui jasa pengiriman yang berkerjasama dengan bukudoa-Lithograph.

Nah, Sudah siap untuk berkerjasama?

Silahkan hubungi kami via Whatsapp ke 082137187170

Atau langsung mengunjungi kantor kami di TPQ Amaanatul Qur’an, Rumah AQu No. 1A, Sanggrahan RT 28, RW. 10  Giwangan, Umbulharjo, Yogyakarta. untuk melihat beragram galeri produk kami, Anda bisa kunjungi laman facebook bukudoa di https://www.facebook.com/cetakbukudoa. Instagram: @bukudoaqu.

Cetak Buku Yasin-Tahlil dan Majmu’ Syarif Murah Berkualitas di Jogja


Buku Yasin-Tahlil dan Majmu’ Syarif, menjadi sarana atau wasilah mendo’akan Al Marhum / Al Marhumah keluarga tercinta baik dalam peringatan dan do’a bersama pada 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1 tahun, dan 1000 hari wafatnya. Mencetak buku Yasin dan Tahlil ataupun Majmu’ Syarif yang berkualitas, murah dan terjangkau sesuai anggaran Anda tentu saja sangat bisa diamanahkan kepada kami di bukudoa-Lithograph.

Apabila sudah punya desain, kami siap membantu mewujudkan desain Anda. Jika belum punya desainnya, maka dengan senang hati kami menawarkan galeri desain kami untuk Buku Yasin-Tahlil, ataupun Majmu’ Syarif secara eksklusif kepada Anda. Berbagai pilihan desain yang menarik, elegan bahkan bisa custome sesuai dengan selera Anda.

Agar proses cetak buku Yasin-Tahlil dan Majmu’ Syarif berjalan cepat, kami sarankan Anda untuk berkonsultasi terlebih dahulu mengenai :

  1. Desain cover
  2. Bahan cover
  3. Bahan isi buku (bisa lihat di daftar harga)
  4. Jumlah halaman buku yang dikehendaki (bisa lihat di daftar harga)
  5. Jumlah pesanan
  6. Daftar harga

Kami siap melayani pemesanan baik online maupun offline, dalam kota maupun luar kota. Untuk pengiriman yang berdomisili di kota Yogyakarta dengan senang hati kami antarkan langsung ke rumah Anda, untuk yang diluar kota jangan khawatir kami bantu proses pengiriman melalui jasa pengiriman yang berkerjasama dengan bukudoa-Lithograph.

Nah, Sudah siap untuk berkerjasama?

Silahkan hubungi kami via Whatsapp ke 081392577090

Atau langsung mengunjungi kantor kami di TPQ Amaanatul Qur’an, Rumah AQu No. 1A, Sanggrahan RT 28, RW. 10  Giwangan, Umbulharjo, Yogyakarta.

untuk melihat beragram galeri produk kami, Anda bisa kunjungi laman facebook bukudoa di https://www.facebook.com/cetakbukudoa

Mengapa bacaannya عليهُ Bukan عَلَيْهِ

Pada dasarnya, dalam kaidah bahasa Arab yang baku, ha’ dhamir mudzakkar (kata ganti tunggal yang maskulin) apabila didahului oleh kasrah atau ya’ sukun, maka harus dibaca kasrah, karena untuk menyesuaikan harakat sebelumnya, seperti lafadz (بِهِ) atau (عَلَيْهِ). Namun dalam riwayat Imam Hafs, kaidah ini tidak berlaku, yakni pada Surat al-Fath ayat 10 (عليهُ الله) dan Surat al-Kahfi ayat 63 (وما أنسابيهُ). Pada kedua lafadz di atas, ha’ dhamirnya dibaca dhammah, padahal menurut kaidah bahasa seharusnya dibaca kasrah. Dua ayat yang dimaksud adalah sebagai berikut:

 إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ ۚ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَىٰ نَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Artinya: “Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.” (QS al-Fath: 10)

قَالَ أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَا أَنْسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ ۚ وَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ عَجَبًا

Artinya: “Muridnya menjawab: ‘Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali’.” (QS al-Kahfi:63)

Mengapa demikian? Padahal, untuk mengidentifikasi keotentikan sebuah qira’at Al-Qur’an harus memenuhi tiga syarat, yaitu (1) tersambungnya sanad secara mutawatir, (2) sesuai dengan rasm utsmaniy, dan (3) sesuai dengan kaidah bahasa Arab. Apabila syarat di atas tidak terpenuhi, maka bacaan tersebut dihukumi syadz (nyeleneh) dan tidak shahih, walaupun bacaan itu bagian dari Qira’at Sab’ah. Dalam hal ini Imam Al-Jazariy bersenandung lewat bait syairnya, yaitu:

 فكل ما وافق وجه النحو *** وكان للرسم احتمالا يحوي

وصح إسنادا هو القرأن *** فهذه الثلاثة الأركان

وحيثما يختل ركن أثبت *** شذوذه لو أنه في السبعة

Dalam bahasa Arab, asal mula ha’ dhamir mudzakkar (kata ganti tunggal yang maskulin) adalah “هو” (huwa; dhammah ha’-nya). Dalam dunia pesantren, lafadz ini kenal dengan sebutan “dhamir munfashil” (kata ganti tunggal maskulin yang terpisah dari lafadz lain). Apabila dhamir ini disambung dengan lafadz lain, maka dhamir itu dikenal dengan sebutan “dhamir muttashil”.

Dalam bacaan riwayat Imam Hafs, pada kedua lafadz di atas (عليهُ الله) (وما أنسابيهُ) dibaca dhammah, apabila ditinjau dari sisi kaidah bahasa Arab, sebenarnya tidak keluar dari pakem bahasa Arab, sebab asal mula harakat ha’ dhamir itu sendiri adalah dhammah. Artinya, dalam hal ini ha’ dhamir dibaca dhammah karena mengukuti sesuai asalnya, yaitu dhammah. Demikian ini merupakan dialek (lahjah) Qurasy.

Sementara itu, apabila dipandang dari sisi pemaknaan, pada kasus Surat al-Fath ayat 10 (عليهُ الله) ha’ dhamir yang bersambung dengan lafadz Allah, menurut Syekh Al-Sayyid Al-Tanthawiy dalam tafsirnya Al-Wasith menguraikan bahwa alasan dibaca dhammah ha’ dhamir pada lafadz itu karena bersambung dengan lafadz Allah. Untuk mengagungkan lafadz, seyogianya dibaca tebal (tafkhim). Selain itu, dalam ayat tersebut menceritakan tentang “Sulh Al-Hudaibiyah” di mana antara Nabi dan umat Islam melakukan perjanjian dengan kaum musyrik yang harus ditepati oleh kedua belah pihak. Karena dalam perjanjian ini adalah perjanjian yang sangat berat, maka sewajarnya ditekankan suara dengan membaca dhammah ha’ dhamir dengan menebalkan lafadz Allah agar sesuai dengan besarnya tanggung jawab perjanjian dan juga dalam rangka menyesuaikan antara lafadz dan makna yang terkandung di dalamnya.

Meskipun demikian, apabila dipandang dari sisi ilmu qira’at, bacaan ini (dhammah ha’ dhamir) merupakan bacaan yang sahih dan mutawatir, yang dihasilkan dari transmisi yang jelas dan penukilan yang sahih dari Nabi ﷺ., kepada para sahabat, dan dilanjutkan oleh para tabi’in hingga sampai kepada kita.

Secara silsilah sanad, bacaan ini diriwayatkan oleh Sayyidina Ali karramallâhu wajhah kepada muridnya, Abu Abdurrahman Al-Sullamiy, kemudian diriwayatkan oleh muridnya Imam Ashim, dan dilanjutkan oleh muridnya Imam Hafs, hingga sampai kepada kita secara mutawatir.

Perlu diketahui bahwa dalam periwayatan qira’at Al-Qur’an tidak ada istilah ijtihad bacaan atau mengekor pada kaidah bahasa Arab, justru sebaliknya bahasa Arab harus mengikuti periwayatan qira’at Al-Qur’an. Sementara penggalian pada sisi pemaknaan, bahasa dan lainnya sebagai bukti kebeneran dan otentifikasi qira’at Al-Qur’an. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh: Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo.

Sumber: www.islam.nu.or.id