Layanan Cetak Buku Yasin Murah, Cepat, Berkualitas

Cetak Buku Yasin-Tahlil dan Majmu’ Syarif Murah Berkualitas di Jogja-Pangkajene Sulawesi Selatan

Buku Yasin-Tahlil dan Majmu’ Syarif, menjadi sarana atau wasilah mendo’akan Al Marhum / Al Marhumah keluarga tercinta baik dalam peringatan dan do’a bersama pada 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1 tahun, dan 1000 hari wafatnya. Mencetak buku Yasin dan Tahlil ataupun Majmu’ Syarif yang berkualitas, murah dan terjangkau sesuai anggaran Anda tentu saja sangat bisa diamanahkan kepada kami di bukudoa-Lithograph.

Apabila sudah punya desain, kami siap membantu mewujudkan desain Anda. Jika belum punya desainnya, maka dengan senang hati kami menawarkan galeri desain kami untuk Buku Yasin-Tahlil, ataupun Majmu’ Syarif secara eksklusif kepada Anda. Berbagai pilihan desain yang menarik, elegan bahkan bisa custome sesuai dengan selera Anda.

Agar proses cetak buku Yasin-Tahlil dan Majmu’ Syarif berjalan cepat, kami sarankan Anda untuk berkonsultasi terlebih dahulu mengenai :

  1. Desain cover
  2. Bahan cover
  3. Bahan isi buku (bisa lihat di daftar harga)
  4. Jumlah halaman buku yang dikehendaki (bisa lihat di daftar harga)
  5. Jumlah pesanan
  6. Daftar harga

Kami siap melayani pemesanan baik online maupun offline, dalam kota maupun luar kota. Untuk pengiriman yang berdomisili di kota Yogyakarta dengan senang hati kami antarkan langsung ke rumah Anda, untuk yang diluar kota jangan khawatir kami bantu proses pengiriman melalui jasa pengiriman yang berkerjasama dengan bukudoa-Lithograph.

Nah, Sudah siap untuk berkerjasama?

Silahkan hubungi kami via Whatsapp ke 081392577090

Atau langsung mengunjungi kantor kami di TPQ Amaanatul Qur’an, Rumah AQu No. 1A, Sanggrahan RT 28, RW. 10  Giwangan, Umbulharjo, Yogyakarta.

untuk melihat beragram galeri produk kami, Anda bisa kunjungi laman facebook bukudoa di https://www.facebook.com/cetakbukudoa

SHOLAT IDUL FITRI DAN TATA CARA PELAKSANAANYA

Muslim boy learning how to make Dua to Allah

Ketika hari raya Idul Fitri atau Idul Adha tiba, seluruh umat Islam yang tidak ada uzur dianjurkan untuk keluar rumah, tak terkecuali perempuan haid. Perempuan yang sedang menstruasi memang dilarang untuk shalat tapi ia dianjurkan turut mengambil keberkahan momen tersebut dan merayakan kebaikan bersama kaum muslimin lainnya. Setiap orang pada saat itu dianjurkan menampakkan kebahagiaan dan kegembiraan.

Hukum shalat id adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan). Sejak disyariatkan pada tahun kedua hijriah, Rasulullah tidak meninggalkannya hingga beliau wafat, kemudian ritual serupa dilanjutkan para sahabat beliau.

Secara global syarat dan rukun shalat id tidak berbeda dari shalat fardhu lima waktu, termasuk soal hal-hal yang membatalkan. Tapi, ada beberapa aktivitas teknis yang agak berbeda dari shalat pada umumnya. Aktivitas teknis tersebut berstatus sunnah.

Waktu shalat Idul Fitri dimulai sejak matahari terbit hingga masuk waktu dhuhur. Berbeda dari shalat Idul Adha yang dianjurkan mengawalkan waktu demi memberi kesempatan yang luas kepada masyarakat yang hendak berkurban selepas rangkaian shalat id, shalat Idul Fitri disunnahkan memperlambatnya. Hal demikian untuk memberi kesempatan mereka yang belum berzakat fitrah.
Shalat id dilaksanakan dua rakaat secara berjamaah dan terdapat khutbah setelahnya. Namun, bila terlambat datang atau mengalami halangan lain, boleh dilakukan secara sendiri-sendiri (munfarid) di rumah ketimbang tidak sama sekali.

Berikut tata cara shalat id secara tertib. Penjelasan ini bisa dijumpai antara lain di kitab Fashalatan karya Syekh KHR Asnawi, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama asal Kudus; atau al-Fiqh al-Manhajî ‘ala Madzhabil Imâm asy-Syâfi‘î (juz I) karya Musthafa al-Khin, Musthafa al-Bugha, dan ‘Ali asy-Asyarbaji.

Pertama, shalat id didahului niat yang jika dilafalkan akan berbunyi “ushallî rak‘ataini sunnatan li ‘îdil fithri”. Ditambah “imâman” kalau menjadi imam, dan “ma’mûman” kalau menjadi makmum.

أُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ سُنَّةً لعِيْدِ اْلفِطْرِ (مَأْمُوْمًا\إِمَامًا) لِلهِ تَعَــــالَى

Artinya: “Aku berniat shalat sunnah Idul Fitri dua rakaat (menjadi makmum/imam) karena Allah ta’ala.”

Hukum pelafalan niat ini sunnah. Yang wajib adalah ada maksud secara sadar dan sengaja dalam batin bahwa seseorang akan menunaikan shalat sunnah Idul Fitri. Sebelumnya shalat dimulai tanpa adzan dan iqamah (karena tidak disunnahkan), melainkan cukup dengan menyeru “ash-shalâtu jâmi‘ah”.

Kedua, takbiratul ihram sebagaimana shalat biasa. Setelah membaca doa iftitah, disunnahkan takbir lagi hingga tujuh kali untuk rakaat pertama. Di sela-sela tiap takbir itu dianjurkan membaca:

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

Artinya: “Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, Maha Suci Allah, baik waktu pagi dan petang.”

Atau boleh juga membaca:

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

Artinya: “Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Allah, Allah maha besar.”

Ketiga, membaca Surat al-Fatihah. Setelah melaksanakan rukun ini, dianjurkan membaca Surat al-A’lâ. Berlanjut ke ruku’, sujud, duduk di antara dua sujud, dan seterusnya hingga berdiri lagi seperti shalat biasa.

Keempat, dalam posisi berdiri kembali pada rakaat kedua, takbir lagi sebanyak lima kali seraya mengangkat tangan dan melafalkan “allâhu akbar” seperti sebelumnya. Di antara takbir-takbir itu, lafalkan kembali bacaan sebagaimana dijelaskan pada poin kedua. Kemudian baca Surat al-Fatihah, lalu Surat al-Ghâsyiyah. Berlanjut ke ruku’, sujud, dan seterusnya hingga salam.

Sekali lagi, hukum takbir tambahan (lima kali pada pada rakaat kedua atau tujuh kali pada rakaat pertama) ini sunnah sehingga apabila terjadi kelupaan mengerjakannya, tidak sampai menggugurkan keabsahan shalat id.

Kelima, setelah salam, jamaah tak disarankan buru-buru pulang, melainkan mendengarkan khutbah Idul Fitri terlebih dahulu hingga rampung. Kecuali bila shalat id ditunaikan tidak secara berjamaah. Hadits Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah mengungkapkan:

السنة أن يخطب الإمام في العيدين خطبتين يفصل بينهما بجلوس

“Sunnah seorang Imam berkhutbah dua kali pada shalat hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha), dan memisahkan kedua khutbah dengan duduk.” (HR Asy-Syafi’i)

Pada khutbah pertama khatib disunnahkan memulainya dengan takbir hingga sembilan kali, sedangkan pada khutbah kedua membukanya dengan takbir tujuh kali. Wallâhu a’lam. (Mahbib)

:::
Catatan: Naskah ini terbit pertama kali di NU Online pada 23 Juni 2017, pukul 15.00. Redaksi mengunggahnya ulang dengan sedikit penyuntingan.

Qadha’ Puasa

Definisi Qadha’

Dalam Bahasa Arab kata Qadha’ bisa bermakna hukum dan penunaian.

Sementara secara istilah, para ulama mendefinisikan qadha’ sebagai:

فِعْل الْوَاجِبِ بَعْدَ وَقْتِهِ

Mengerjakan kewajiban setelah lewat waktunya

Siapa Saja yang Diwajibkan Mengqadha’ puasanya?

  1. Orang Sakit

أَيَّامًا مَعْدُودَات فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ  وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi Makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Al-Baqarah 184.)

عنْ حَمْزَةَ بْنِ عَمْرٍو الأَسْلَمِيِّ رِضَى اَللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ يَا رَسُولَ اَللَّهِ أَجِدُ بِي قُوَّةً عَلَى اَلصِّيَامِ فِي اَلسَّفَرِ فَهَلْ عَلَيَّ جُنَاحٌ؟ فَقَالَ رَسُولُ اَللَّهِ  هِيَ رُخْصَةٌ مِنَ اَللَّهِ فَمَنْ أَخَذَ بِهَا فَحَسَنٌ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَصُومَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ

Dari Hamzah bin Amru Al-Aslami radhiyallahuanhu, dia bertanya, ”Ya Rasulallah, Saya mampu dan kuat berpuasa dalam perjalanan, apakah saya berdosa?”. Beliau menjawab, ”Itu adalah keringanan dari Allah. Siapa yang mengambilnya, maka hal itu baik. Namun siapa yang ingin untuk terus berpuasa, tidak ada salah atasnya.” (HR. Muslim)

Ulama sepakat bahwa jenis safar yang membolehkan seorang muslim untuk tidak puasa ialah perjalanan yang membolehkan untuk meng-qashar sholat, yang mana dalam pendapat madzhab Syafi’i adalah perjalanan yang menempuh jarak 84 km (16 farsakh) , sementara menurut Hanafiah adalah perjalanan yang ditepuh selama 3 hari, dan menurut Jumhur ulama (mayoritas ulama) adalah perjalanan yang menempuh waktu seharian penuh.

Selebihnya, ulama juga menambahkan satu syarat untuk perjalanan yang membolehkan seorang muslim tidak berpuasa, yaitu ia melakukan perjalanan sejak sebelum fajar. Maka Sebagai gantinya, ia diwajibkan berpuasa dibulan lain selain Ramadhan selama hari yang ia tinggalkan karena perjalanan tersebut. meski demikian, bagi yang melakukan perjalanan dimulai dari siang hari tetap boleh membatalkan puasanya.

  1. Wanita Haid dan Nifas

Dalam sebuah riwayat, muadzah pernah bertanya kepada sayyidah aisyah tentang puasa wanita haid, maka aisyah berkata:

كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ

“Kami dulu mengalami haidh. Kami diperintarkan untuk mengqodho puasa dan kami tidak diperintahkan untuk mengqodho’ shalat.”(HR. Muslim)

Keadaan ini membolehkan orang yang berpuasa membatalkan puasanya dan mewajibkan mereka mengqadha’ puasanya di hari yang lain. contoh: di siang hari ketika ramadhan, seorang ibu harus meminum obat untuk bayinya yang disusui.

  1. Batal Puasa

Orang-orang yang batal puasanya baik disengaja ataupun tidak disengaja wajib mengqadha’ puasanya di hari lain di luar Ramadhan.

Kapan Waktu Mengqadha’ Puasa?

            Para ulama sepakat secara Ijma’ bahwa orang yang diwajibkan mengqadha’ puasanya harus melakukannya setelah bulan Ramadhan hingga sebelum menjelang ramadhan selanjutnya. Serta diharamkan melakukan qadha puasa di hari-hari yang diharamkan.

Bagaimana Jika Bertemu Ramadhan Selanjutnya Belum Mengqadha’ Puasanya?

Jumhur ulama sepakat bahwa bila tertundanya karena udzur syar’i seperti nifas, menyusui, hamil, sakit parah yang berkelanjutan, maka boleh dan tidak ada pembebanan lain selain membayar qadha’nya.

namun bila tanpa udzur syar’i, para ulama berbeda pendapat:

1. Ibnu Qudamah (Hanabilah), Ibnu Hajar Al Haitami (Syafi’iyah) berpendapat wajib mengqodho’ sejumlah hari yang ditinggalkan dan membayar fidyah (memberi makan satu orang sebanyak satu mud) sesuai dengan jumlah hari yang ditinggalkan. jadi jika meninggalkan puasa 4 hari dan belum mengqadha sampai Ramadhan selanjutnya, menurut madzhab ini wajib bayar qadha’ 4 hari dan fidyah 4 hari. (lihat : kitab al mughni li ibni Qudamah 3/154 & tuhfatul muhtaj li ibni hajar al haitami 3/445)

Sementara beberapa golongan Syafiiyah yang lain berpendapat bahwa selain membayar qadha’  jumlah fidyahnya dihitung sesuai periode tahun yang ditinggalkan. misalkan meninggalkan puasa 4 hari dan belum qadha hingga bertemu Ramadhan selanjutnya,

maka, qadha’ 4 hari + fidyah 4 x 2 periode ramadhan = 8 hari bayar fidyah

total : 4 qadha + 8 fidyah

(lihat : al fiqhu ala madzahib al arba’ah 3/1735)

2. Ibnu Hummam (Hanafiyah) + Al Muzani (Syafiiyah) : cukup bayar Qadha di luar ramadhan dan tidak perlu bayar fidyah. (lihat : bidayatul mujtahid 1/240, al fiqhu ala madzahib al arba’ah 3/1735)

Puasa Sunnah Dulu Atau Qadha dulu?

Para ulama berbeda pendapat tentang apakah boleh puasa sunnah syawwal dulu tanpa qadha?

Para ulama Hanafiah mengatakan boleh, Dasar landasan pendapat ini bahwa kewajiban puasa qadha’ bersifat tarakhi (تراخي). Maksudnya boleh ditunda atau diakhirkan, hingga sampai menjelang masuknya bulan Ramadhan tahun berikutnya.

Malikiyyah dan Syafi’iyyah mengatakan boleh namun dengan dihukumi makruh, karena yang harus diutamakan adalah puasa yang sifatnya wajib.

Hanabilah berpendapat dilarang, mereka mendasarkan pendapatnya pada hadits nabi berikut ini :

مَنْ صَامَ تَطَوُّعًا وَعَلَيْهِ مِنْ رَمَضَانَ شَيْءٌ لَمْ يَقْضِهِ فَإِنَّهُ لاَ يُتَقَبَّل مِنْهُ حَتَّى يَصُومَهُ

Siapa yang berpuasa sunnah padahal dia punya hutang qadha’ puasa Ramadhan yang belum dikerjakan, maka puasa sunnahnya itu tidak sah sampai dia bayarkan dulu puasa qadha’nya. (HR. Ahmad)

Orang yang Meninggal Sebelum Sempat Bayar Qadha’ Puasanya, Apakah dibayarkan oleh Keluarganya?

    Sejumlah ulama dari kalangan Syafi’iyah, Abu Tsaur, Al-Auza’i, serta madzhab Adz-Dzahiriyah berpendapat bahwa keluarga mayyit wajib membayarkan qadha’ puasanya, dengan berlandaskan kepada hadist:

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

“Orang yang meninggal dunia dan meninggalkan hutang puasa, maka walinya harus berpuasa untuk membayarkan hutangnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

            Akan tetapi, ulama-ulama Fiqih dari madzhab Asy-Syafi’iyah dalam qaul jadid serta madzhab Al-Hanabilah berpendapat bahwa cukup bagi keluarganya membayarkan fidyahnya saja. Pendapat serupa juga dikatakan oleh ulama madzhab Al Hanafiah dan Al malikiyah namun mereka menekankan harus ada wasiat sebelumnya tentang perihal qadha’ puasa. Dalil yang melatarbelakangi pendapat jumhur ulama ini adalah hadist berikut:

لاَ يُصَلِّي أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ وَلاَ يَصُومُ أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ وَلَكِنْ يُطْعِمُ عَنْهُ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مُدٌّ مِنْ حِنْطَةٍ

“Janganlah kamu melakukan shalat untuk orang lain, dan jangan pula melakukan puasa untuk orang lain. Tetapi berilah makan (orang miskin) sebagai pengganti puasa, satu mud hinthah untuk sehari puasa yang ditinggalkan.” (HR. An-Nasa’i)

Ibu Hamil dan Menyusui yang Meninggalkan Puasa, Qadha atau Fidyah?

Para ulama fiqih semuanya sepakat bagi wanita hamil ataupun menyusui yang kesulitan atau berat untuk berpuasa, boleh berbuka atau tidak puasa Ramadhan dengan berlandaskan kepada dalil berikut:

إن الله عز وجل وضع عن المسافر الصوم وشطر الصلاة، وعن الحبلى والمرضع الصوم

Sesungguhnya Allah memberikan keringanan bagi orang musafir berpuasa dan shalat, dan bagi wanita hamil dan menyusui berpuasa. (HR. Ahmad)

Tapi mereka berbeda pendapat tentang konsekuensi yang harus dibayar setelah mereka meninggalkan puasanya, apakah harus qadha’ puasa mereka atau membayar fidyah, ataukah keduanya?

Dalam madzhab Hanafi Ibu Hamil dan menyusui yang mengkhawatirkan keadaan salah satunya (janin atau ibunya), maka boleh tidak puasa dan hanya membayar qadha’ saja tanpa fidyah.

Dalam Madzhab Maliki dibedakan antara wanita hamil dan menyusui dengan perincian sebagai berikut:

  1. Wanita hamil yang dikhawatirkan lemah salah satunya (janin atau ibunya) maka wajib membatalkan puasa dengan konsekuensi membayar qadha’
  2. Wanita menyusui yang dikhawatirkan lemah keduanya bila ibu berpuasa maka wajib membatalkan puasa dengan konsekuensi bayar qadha’
  3. Wanita menyusui yang bayinya terindikasi lemah tapi sang ibu masih bisa berpuasa dan memproduksi asi, maka sang ibu boleh tidak berpuasa dengan konsekuensi bayar qadha’ dan fidyah.

Sementara dalam Madzhab Syafi’i dan Hambali, sedikit memiliki kemiripan dengan Malikiyah, hanya saja ulama dalam madzhab ini berpendapat bahwa jika ibu yang hamil kuat berpuasa meski kondisi janinnya dikhawatirkan lemah tetap boleh tidak puasa namun konsekuensinya adalah qadha’ dan fidyah.

Bentuk Fidyah Seperti Apa?

Fidyah adalah makanan yang diberikan kepada fakir miskin. Maka bentuk fidyah itu pada

dasarnya adalah makanan, yang dalam hal ini menurut para ulama adalah makanan yang merupakan bahan mentah dan menjadi makanan pokok dari suatu masyarakat.

Ukuran Timbangan Fidyah

Para ulama madzhab berbeda-beda dalam hal ini, Madzhab Al-Malikiyah dan As-Syafi‘iyah menetapkan bahwa ukuran fidyah yang harus dibayarkan kepada setiap satu orang fakir miskin adalah satu mud gandum sesuai dengan ukuran mud Nabi SAW atau setara ¼  sha’. Bila dikonversi kepada ukuran gandum atau beras maka setara dengan kedua telapak tangan yang disatukan, seperti ketika orang sedang berdoa dengan menengadahkan kedua tangannya. Bila diukur dengan ukuran zaman sekarang ini, satu mud itu setara dengan 675 gram atau 0.6 kg beras yang setara dengan ¾ liter beras.

Sementara ulama Hanafiah berpendapat bahwa fidyah ukurannya adalah 1 sha’ atau sama dengan 4 mud, bila dikonversi kepada timbangan sekarang adalah 2.176 gram atau 2,75 liter. Mirip seperti ukuran beras zakat fitr.

Wallahu a’lam bisshowab

oleh: Siti Chozanah, Lc artikel dalam Rumah Fiqh Indonesia

Cetak Buku Yasin-Tahlil dan Majmu’ Syarif Murah Berkualitas di Jogja


Buku Yasin-Tahlil dan Majmu’ Syarif, menjadi sarana atau wasilah mendo’akan Al Marhum / Al Marhumah keluarga tercinta baik dalam peringatan dan do’a bersama pada 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1 tahun, dan 1000 hari wafatnya. Mencetak buku Yasin dan Tahlil ataupun Majmu’ Syarif yang berkualitas, murah dan terjangkau sesuai anggaran Anda tentu saja sangat bisa diamanahkan kepada kami di bukudoa-Lithograph.

Apabila sudah punya desain, kami siap membantu mewujudkan desain Anda. Jika belum punya desainnya, maka dengan senang hati kami menawarkan galeri desain kami untuk Buku Yasin-Tahlil, ataupun Majmu’ Syarif secara eksklusif kepada Anda. Berbagai pilihan desain yang menarik, elegan bahkan bisa custome sesuai dengan selera Anda.

Agar proses cetak buku Yasin-Tahlil dan Majmu’ Syarif berjalan cepat, kami sarankan Anda untuk berkonsultasi terlebih dahulu mengenai :

  1. Desain cover
  2. Bahan cover
  3. Bahan isi buku (bisa lihat di daftar harga)
  4. Jumlah halaman buku yang dikehendaki (bisa lihat di daftar harga)
  5. Jumlah pesanan
  6. Daftar harga

Kami siap melayani pemesanan baik online maupun offline, dalam kota maupun luar kota. Untuk pengiriman yang berdomisili di kota Yogyakarta dengan senang hati kami antarkan langsung ke rumah Anda, untuk yang diluar kota jangan khawatir kami bantu proses pengiriman melalui jasa pengiriman yang berkerjasama dengan bukudoa-Lithograph.

Nah, Sudah siap untuk berkerjasama?

Silahkan hubungi kami via Whatsapp ke 081392577090

Atau langsung mengunjungi kantor kami di TPQ Amaanatul Qur’an, Rumah AQu No. 1A, Sanggrahan RT 28, RW. 10  Giwangan, Umbulharjo, Yogyakarta.

untuk melihat beragram galeri produk kami, Anda bisa kunjungi laman facebook bukudoa di https://www.facebook.com/cetakbukudoa



Cetak Buku Yasin-Tahlil dan Majmu’ Syarif Murah Berkualitas di Jogja

Buku Yasin-Tahlil dan Majmu’ Syarif, menjadi sarana atau wasilah mendo’akan Al Marhum / Al Marhumah keluarga tercinta baik dalam peringatan dan do’a bersama pada 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1 tahun, dan 1000 hari wafatnya. Mencetak buku Yasin dan Tahlil ataupun Majmu’ Syarif yang berkualitas, murah dan terjangkau sesuai anggaran Anda tentu saja sangat bisa diamanahkan kepada kami di bukudoa-Lithograph.

Apabila sudah punya desain, kami siap membantu mewujudkan desain Anda. Jika belum punya desainnya, maka dengan senang hati kami menawarkan galeri desain kami untuk Buku Yasin-Tahlil, ataupun Majmu’ Syarif secara eksklusif kepada Anda. Berbagai pilihan desain yang menarik, elegan bahkan bisa custome sesuai dengan selera Anda.

Agar proses cetak buku Yasin-Tahlil dan Majmu’ Syarif berjalan cepat, kami sarankan Anda untuk berkonsultasi terlebih dahulu mengenai :

  1. Desain cover
  2. Bahan cover
  3. Bahan isi buku (bisa lihat di daftar harga)
  4. Jumlah halaman buku yang dikehendaki (bisa lihat di daftar harga)
  5. Jumlah pesanan
  6. Daftar harga

Kami siap melayani pemesanan baik online maupun offline, dalam kota maupun luar kota. Untuk pengiriman yang berdomisili di kota Yogyakarta dengan senang hati kami antarkan langsung ke rumah Anda, untuk yang diluar kota jangan khawatir kami bantu proses pengiriman melalui jasa pengiriman yang berkerjasama dengan bukudoa-Lithograph.

Nah, Sudah siap untuk berkerjasama?

Silahkan hubungi kami via Whatsapp ke 081392577090

Atau langsung mengunjungi kantor kami di TPQ Amaanatul Qur’an, Rumah AQu No. 1A, Sanggrahan RT 28, RW. 10  Giwangan, Umbulharjo, Yogyakarta.

untuk melihat beragram galeri produk kami, Anda bisa kunjungi laman facebook bukudoa di https://www.facebook.com/cetakbukudoa



Share via